Polemik Dalam Pilgub Jatim : Reaksi Menanggapi Perbedaan Hasil Perhitungan KPU Dan Lembaga Survei

18 12 2008

Pilgub Jatim

“Pesta” Demokrasi Dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur

Sebuah ajang pesta demokrasi dalam pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Timur telah dilaksanakan pada 4 November 2008.  Pilgub ini merupakan putaran ke – 2 setelah sebelumnya telah dilaksanakan pilgub putaran pertama pada 23 Juli 2008. Pilgub putaran ke – 2 dilaksanakan karena pada putaran pertama tidak ada pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 30 %. Setelah putaran pertama, didapatkan 2 pasangan calon yang lolos menuju putaran ke – 2 dari 4 pasangan calon, yaitu pasangan Soekarwo – Syaifullah Yusuf (Karsa) dan Khofifah Indar Parawansa – Mudjiono (Kaji).

Pada putaran ke – 2 terjadi persaingan yang sangat sengit antara 2 pasangan calon yang bisa disebut sama – sama kuat tersebut. Hasil akhir dari putaran ke – 2 yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur memenangkan pasangan Karsa atas pasangan Kaji dengan perolehan suara 7.729.944 (50,20 %) dan 7.669.721 (48,80%). Hasil resmi yang dinyatakan oleh KPU pada tanggal 11 November 2008 tersebut hanya memiliki selisih 60.000 suara antara keduanya. Hasil ini tentu saja sangat berbeda dengan hasil quick count seperti yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), Lingkar Survei Indonesia (LSI), Pusdehan, dan Puskatis yang memenangkan pasangan Kaji atas Karsa dengan selisih kurang dari 1 persen.

Dari awal memang sudah bisa diprediksi bahwa persaingan ini akan alot. Keduanya memang sama – sama memiliki pendukung yang hampir seimbang. Sehingga, selisih hasil perolehan suaranya pun tidak terpaut jauh. Dengan selisih perolehan suara yang hanya kurang dari 1 persen tersebut, peluang terjadinya konflik paska pilgub sangat besar. Kondisi tersebut diperparah dengan pernyataan sepihak yang telah diungkapkan oleh salah seorang pasangan calon yang hanya berdasar pada hasil survei sebelum hasil resmi dirilis oleh KPU. Masyarakat telah dibuat bingung dengan kondisi tersebut. Sehingga, muncul pertanyaan manakah sebenarnya yang patut dipercaya ? Apakah hasil perhitungan riil KPU ataukah hasil quick count lembaga – lembaga survei yang hanya melakukan perhitungan dengan sistem sampling yang memiliki margin error 3% tersebut ? Jika melihat dari kondisi tersebut, perhitungan riil KPU bisa dibilang lebih valid dengan bukti surat suara dan berita acara yang telah ditandatangani oleh wakil dari masing – masing pasangan calon. Sedangkan, perhitungan sistem sampling lembaga – lembaga survei tersebut dimungkinkan terjadi kesalahan dengan masuk ke zona margin error, karena memang hasil tersebut hanya didasarkan pada perhitungan hasil perolehan suara beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di beberapa daerah saja.

Namun, yang patut disayangkan adalah pernyataan kemenangan sepihak yang telah disebutkan di atas. Masyarakat telah dikondisikan untuk menerima kemenangan dari salah satu pasangan calon sebelum hasil resmi dirilis. Bahkan, timbul pernyataan yang mengajak pendukung untuk mempertahankan kemenangan tersebut dari segala bentuk tindakan yang memungkinan membuat pihak mereka mengalami kekalahan. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat tidak mendidik ketika opini publik telah dibentuk tanpa mengacu pada hasil riil yang resmi dirilis KPU sebagai otoritas yang berwenang. Sudah sepatutnya semua pihak bersikap bijaksana dalam memandang perbedaan hasil perhitungan tersebut dan tidak mengeluarkan pernyataan – pernyataan yang bisa memperkeruh keadaan. Karena dengan pernyataan pemicu tersebut, dikhawatirkan akan membuat kondisi di masyarakat pendukung kedua pihak makin memanas dan dapat memicu timbulnya kerusuhan. Namun, kita patut bersyukur karena sampai saat ini kerusuhan yang dimungkinkan timbul dari polemik pilgub ini tidak terjadi. Semoga polemik ini dapat diselesaikan oleh kedua pihak yang sama – sama mengklaim kemenangannya dengan cara sebagai mana yang telah diatur dalam undang – undang yaitu melalui Mahkamah Konstitusi (MK) dan hal ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Jawa Timur dalam perhelatan pesta demokrasi dengan bersikap bijaksana serta tidak anarkis dalam menanggapi hasil akhir apapun yang akan dicapai nantinya.

Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)

[FREAX]

About these ads

Actions

Information

2 responses

15 02 2009
rthamrinr

terkait siapa seharusnya yang menang dalam setiap pilkada silahkan baca juga http://rthamrinr.wordpress.com/2008/11/14/sebenarnya-siapa-yang-menang/
pemenang terbanyak adalah org2 yang tdk mengingikan adanya gubernur, jadi perlu dicoba untuk tidak ada gubernur dalam satu periode

15 02 2009
EVAN

@ Mas Thamrin
hwe… jumlah golput emang byk mas, tp bukan berarti rakyat tidak butuh gubernur… kl g ad gubernur lalu siapa yg akan memimpin propinsi ini…
Memang gerakan politik saat ini harus melakukan perubahan untuk mendapatkan kmbali kepercayaan rakyat… golput adalah salah satu indikasi bahwa rakyat sudah tidak percaya lagi dengan politik pemerintahan saat ini…
Thx buat linkx… Ayo mas, kekritisan smpyn dbutuhkan bangsa ini,,, maju dadi caleg aj,,, tak dukung deh… he3x… :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: