Kisah Perjuangan Muhammad Natsir

18 12 2008

Muhammad Natsir

Muhammad Natsir

Pahlawan Nasional Yang Sempat Terlupakan

Muhammad Natsir adalah salah seorang pejuang pergerakan nasional. Namun, jasa perjuangan Natsir sempat terlupakan hingga Natsir baru mendapatkan gelar kepahlawanannya pada tahun 2007 yang diberikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimanakah sejarah perjuangan M. Natsir yang sempat terlupakan itu ?  Natsir dilahirkan pada 17 Juli 1908 di kota Alahan Panjang, Sumater Barat. Ketika kecil, Natsir belajar di HIS Solok dan di sekolah agama Islam. Pada tahun 1923 – 1927 Natsir mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikannya di sekolah MULO. Di sanalah Natsir menjadi aktivis Pandu Natin dari Young Islamiten Bond cabang Padang. Setelah itu, Natsir melanjutkannya ke AMS di Bandung hingga tahun 1930. Di sanalah Natsir banyak belajar ilmu pengetahuan dari barat dan membelajari filsafat Romawi, Yunani, dan Eropa serta sejarah peradaban Islam. Di sana pula Natsir bertemu dengan para pejuang pergerakan nasional lainnya. Diantaranya adalah Syafruddin Prawiranegara, Muhammad Roem, dan Sutan Syahrir. Pada tahun 1930, Natsir berguru pada Ahmad Hasan, pendiri organisasi Islam Persis. Natsir pernah menjabat menteri penerangan Republik Indonesia pada tahun 1946 – 1949 serta menjadi Perdana Menteri dari 5 September 1950 sampai 26 April 1951.

Natsir merupakan salah satu pejuang Islam. Natsir adalah salah satu pendiri dan pemimpin partai Masyumi, partai Islam yang pernah memenangkan pemilu pada tahun 1955. Selain di tanah air, Natsir juga dikenal dunia internasional sebagai anggota dewan pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), bahkan Natsir pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal di lembaga tersebut.

Sebuah peristiwa yang terkenal dalam perjuangan Natsir adalah pidatonya di hadapan sidang Konstituante. Pada sidang Konstituante tahun 1957, Natsir berpidato dengan memaparkan kelemahan sekularisme. Natsir menjelaskan bahwa sekularisme adalah paham tanpa agama. Sekularisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan dan sikap hanya di dalam batas kehidupan dunia. Intinya, M. Natsir menawarkan kepada sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia. Pidatonya tersebut sangat terkenal hingga sastrawan yang juga ulama, Buya Hamka, membuat puisi khusus untuk perjuangan Natsir melawan sekularisme. Puisi tersebut terdapat dalam salah satu novelnya yang terkenal berjudul “Di Bawah Lindungan Ka’bah”.

Berbagai penghargaan pernah diraih oleh Natsir di kancah internasional. Natsir pernah mendapatkan penghargaan bintang kehormatan dari Republik Tunisia dalam perjuangannya membantu kemerdekaan negara – negara Islam di Afrika Utara. Pada tahun 1967, Natsir juga mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Arab Saudi pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam, dan Doktor Honoris Causa dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.

Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)

[FREAX]


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: