Manajemen Sebagai Paradigma Berpikir (Performance, Achievement, & Satisfaction) Bagian 2

6 02 2009

Self-Development Training (Bapak Arif Munandar)

@ PPSDMS Nurul Fikri Regional 4 Surabaya

Evan’s Blog - TPD PPSDMS Reg 4 Surabaya

*      5 Generations of management :

  • 1st generation – Management by doing : semua dilakukan sendiri. Memiliki kelemahan jika terlalu perfeksionis
  • 2nd  generation – Management by directing : mengarahkan apa, bagaimana, dan mengawasi. Memiliki kelemahan berupa sindrom Perkinson, terlalu banyak yang menjadi pengawas. Struktur organisasi terlalu dalam hingga membentuk piramida. Dalam sebuah struktur organisasi yang ideal rentang kendali satu orang dapat mengendalikan maksimal 7-8 orang secara langsung
  • 3rd generation – Management by result : hanya diberitahu target hasil. Memiliki kelemahan dapat menimbulkan pragmatism, berpikir instan, melakukan apa pun untuk mencapai tujuan.
  • 4th generation – Management by process : getting better, faster. Terdapat 3 bagian penting yang menyusun sebuah proses : quality, new scientific management, teamwork. Kata kuncinya adalah : speed, speed, speed, innovation
  • 5th generation – Management by creating management

*      3 hal yang harus dilakukan sebelum membuat program kerja :

  • Shared meaning
  • Shared vision
  • Shared values

*      3 cek poin manajemen yang sehat :

ü  Paradigm yang sehat dalam manajemen

Ø  Acquires necessary knowledge :

o   Apa yang perlu dilakukan ?

o   Apa yang bvenar untuk organisasi ?

Ø  Convers knowledge into action :

o   Develops action plans

o   Takes responsibility for decisions

o   Takes responsibility for communicating

o   Focus on opportunities rather than problems

Ø  Involves the whole organization :

o   Runs productive meetings

o   Think and say “We” rather than “I”

Tips-tips meeting/rapat yang efektif :

  • Pastikan tidak ada meeting yang mendadak
  • Pastikan tidak ada meeting tanpa agenda yang telah didistribusikan terlebih dahulu
  • Agenda harus detail : no, topic, PIC (person in charge), alokasi waktu
  • Sebisa mungkin hindari agenda “dll”
  • Kalau terpaksa lakukan voting jika mufakat tidak dapat dicapai
  • Hindari pending kecuali jika ada informasi tentang sebuah topic yang penting dan mendasar serta bisa dipastikan diperoleh dengan adanya penundaan waktu.
  • Jika terjadi deadlock leaders harus mengambil keputusan
  • Salah satu urgensi agenda terdistribusi adalah meminimalisasikan adanya perubahan keputusan karena adanya solusi yang lebih baik setelah keputusan dibuat. Jika hal itu terjadi dan memang dibutuhkan hormati proses pengambilan keputusan. Lakukan pengambilan keputusan seperti keputusan sebelumnya
  • Komunikasikan agar terhindar dari kata-kata “plin-plan” jika harus merubah keputusan. Inti komunikasi yang baik adalah : not only “What ?” but also “Why ?”
  • Semendadak apa pun rapat, orang yang paling berkaitan dengan topic yang dibahas harus dapat dihadirkan.

ü  Means (alat) Vs Ends (target)Ø  Atasan membutuhkan Ends bukan Means dari bawahannya. Jangan jadikan Means sebagai alasan jika terjadi kegagalan

Ø  Tanpa sadar banyak orang yang mencampur-adukkan antara keduanya bahkan menjadikan Means sebagai Ends dan sebaliknya

Ø  Kenapa hal di atas dapat terjadi ?

o   Kelemahan logika berpikir

o   Tidak jujur dan tidak bertanggung jawab (self defense mechanism)

Ø  Kelas-kelas pekerja :

o   Kuli : mengacu pada aktivitas

o   Manajer : mengacu pada result

o   Pemimpin : mengacu pada visi

Ø  Ingat ! atasan tidak buta, selalu melihat progress bawahannya setelah memaafkan sebuah kegagalan.

Ø  Jangan berbelit-belit dalam mengemukakan alasan.

Ø  Agar bahagia di organisasi, selaraskan individual interest dan organisasional interest. Hasil potongan dari keduanya adalah zone indifference. Semakin besar zona ini semakin bagus.

Ø  Bekerja extra-miles : member lebih tidak sekedar selesai tetapi sampai tuntas dan hasil pekerjaan benar-benar siap digunakan

Ø  Dalam organisasi dimana Anda berada jangan menjadi “Kritikus” tetapi jadilah “Agent of Change”.

ü  Ruang privat Vs Ruang public

Ø  Sulit bekerja sama dan anti-sosial

Ø  Tidak mau/tidak mampu bertanggung jawab

Ø  Tidak satu kata dengan perbuatan

Ø  Nilai-nilai tidak diobjectifikasi

Ø  Tidak punya dorongan berprestasi yang konsisten

Ø  Ingin punya “atasan ideal” tanpa berusaha menjadi “bawahan ideal”

Ø  Ingin punya “keluarga ideal” padahal dirinya bukan “anggota keluarga ideal”

Ø  Relasi ideal antara ruang privat dan ruang public :

o   Ruang publik => feedback, trust, & respect => ruang privat

o   Ruang privat => kontribusi eksternal positif => ruang public

Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)

[FREAX]


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: