Pilah-Pilih Program Televisi Agar Terhindar Dari Pola Pikir Pragmatisme

6 02 2009

Evan’s Blog (Pilah - Pilih Program Televisi)

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa televisi merupakan media informasi yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Diantara media informasi lain, baik cetak maupun elektronik, televisi memang menjadi favorit berbagai kalangan masyarakat. Tidak seperti koran yang mungkin hanya orang yang mampu membelinya setiap hari saja yang dapat menikmatinya. Televisi bisa diakses kapan pun tanpa harus membayar sejumlah uang secara langsung untuk menikmatinya. Cukup dengan tersedianya media berupa televisi beserta perangkatnya dan sumber listrik. Sebagian masyarakat Indonesia saat ini sudah mendapatkan pasokan listrik dan memiliki minimal 1 buah televisi per keluarga dari mulai masyarakat kota hingga pelosok desa. Televisi pun telah menjadi media yang akrab dan digemari mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, bahkan manula, baik pria maupun wanita. Dari fenomena ini, televisi memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia.

Berbagai macam program televisi ditawarkan. Program pun telah diklasifikasikan untuk berbagai kelas social dan usia. Secara garis besar dari 2 jenis klasifikasi masyarakat tersebut ditawari dengan program-program dari mulai yang bersifat mendidik hingga lelucon yang tidak berbobot. Namun demikian, program-program yang ditawarkan saat ini telah didominasi oleh tayangan-tayangan yang kurang berbobot dan tidak mendidik bahkan dapat menjerumuskan masyarakat ke dalam pola pikir pragmatisme. Tayangan yang bersifat mendidik kalah pamor dengan sinetron percintaan dan program hiburan yang mengusung gaya hidup glamor selebritis. Hal ini kurang mendidik masyarakat karena mengajarkan bagaimana mendapatkan segala sesuatu secara instan. Lihat saja program pencarian bakat untuk menjadi selebritis. Jika dikritisi dengan seksama, beribu-ribu remaja bahkan lebih telah mendaftarkan diri dan rela mengikuti berbagai fase seleksi untuk menjadi selebritis yang dipuja masyarakat. Begitu mudahnya saat ini untuk menjadi figure pujaan masyarakat hanya dengan lolos seleksi dan menjalani pelatihan beberapa bulan saja. Padahal untuk menjadi figur membutuhkan jalan panjang yang harus dirintis mulai dari awal dan pengalaman yang memadai. Jika pola pikir hanya untuk melihat potensi diri dan mengembangkannya, itu tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi masalah di sini adalah pola pikir masyarakat yang menginginkan kehidupan yang penuh dengan kemegahan dan dipuja banyak orang dapat diperoleh secara instan dalam waktu singkat.

Sebagai kaum intelektualitas yang paham mengenai pengaruh besar media informasi terhadap pembentukan pola pikir, masyarakat yang telah berkesempatan mendapatkan pendidikan tinggi harus bisa memilah dan memilih program apa yang tepat untuk menjadi konsumsi sehari-hari bagi dirinya maupun keluarga. Program pencarian bakat dengan tawaran kehidupan glamor super mewah dan popularitas hanyalah satu contoh diantara banyak program yang kurang mendidik dan menyebarkan pola pikir pragmatism. Jika pola pikir pragmatism telah menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan masyarakat apalagi remaja, dapat dipastikan bahwa masa depan bangsa Indonesai pun menjadi taruhannya. Pola pikir pragmatism mengajarkan bagaimana mendapatkan tujuan dan impian yang ingin dicapai dengan berbagai cara yang bisa dilihat hasilnya secara cepat. Padahal, dalam kehidupan nyata apalagi dalam kehidupan modern yang diiringi dengan persaingan global, untuk mencapai apa yang diinginkan tidaklah semudah itu. Banyak hal yang harus dijalani sesuai dengan proses dan membutuhkan pengorbanan dan waktu yang tidak sedikit. Pola pikir pragmatism dapat menjebak remaja menjadi mudah putus asa ketika mereka mendapatkan tantangan yang lebih dari apa yang mereka bayangkan sesuai dengan kehidupan instan yang penuh kemudahan. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan program-program hiburan yang sedang “in” saat ini. Namun, masyarakat juga perlu waspada terhadap segala kemungkinan yang ada dengan pengaruh globalisasi yang sangat cepat menyebar dan mempengaruhi pembentukan pola pikir masyarakat melalui media infomasi khususnya televisi.

Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)

[FREAX]


Actions

Information

2 responses

21 09 2009
lisa

tulisan mengenai pembentukan pola pilkr ini bagus.. Semoga bangsa indonesia mampu memiliki pola pikir yang baik untuk membangun bangsanya..

27 09 2009
EVAN

@ Lisa
Amiiin…
Iya, Qta kan bersama2 berjuang tuk mewujudkan Bangsa Indonesia yg lebih Baik & Bermartabat (Sesuai dg Visi PPSDMS Nurul Fikri). ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: