Fenomena Facebook : Perdebatan Fatwa Haram Facebook

10 06 2009

 Evan’s Blog - Fenomena Facebook (Perdebatan Fatwa Haram Facebook) 

Minggu terakhir bulan Mei 2009 membawa kembali nama Facebook menjadi perbincangan yang menarik. Beberapa media cetak maupun online nasional dalam minggu itu merilis sejumlah artikel maupun opini yang memperbincangkan tentang Facebook. Kali ini bukan “Facebookers” saja yang ikut dalam perbincangan itu, melainkan juga melibatkan ulama’ Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi, praktisi teknologi informasi kontroversial Roy Suryo, anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR-RI) Al Yusni dari Komisi VIII DPR-Ri, dan Menteri Komunikasi dan Informatika, M. Nuh. Perbincangan di media lebih mengarah pada perdebatan pro dan kontra tentang fatwa haram Facebook yang dikeluarkan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPPP) se-Jawa Timur. Sebagaimana diketahui bahwa pada minggu sebelumnya, FMPPP se-Jawa Timur mengadakan pertemuan ‘Bahtsul Masail’ di Lirboyo, Kediri untuk membahas isu-isu yang sedang hangat di kalangan santri pondok pesantren. Pertemuan tersebut berakhir dengan menghasilkan fatwa bahwa “Facebook dan jejaring sosial lain hukumnya haram, jika dipergunakan berlebihan seperti kegiatan yang dapat membangkitkan syahwat“, demikian yang diungkapkan oleh Nabiel Harun dari FMPPP kepada kantor berita Antara. Seperti yang telah saya sampaikan pada artikel saya sebelumnya bahwa Facebookmemang sangat fenomenal. Pengaruh Facebook saat ini tidak hanya dirasakan oleh pemuda di kota saja, bahkan santri pondok pesantren pun telah mengenalnya sampai-sampai dikeluarkan fatwa haram tersebut.

Namun, kenapa fatwa itu menjadi perbincangan yang melibatkan banyak orang ? hingga alim ulama’ dan politisi ikut turun tangan. Ternyata banyak sekali yang kontra dengan fatwa tersebut yang menyudutkan pihak pesantren hingga ikut melibatkan Majelis Ulama’ Indonesia (MUI). Padahal, jika kita cermati dengan teliti, menurut fatwa tersebut hukum haram hanya akan terjadi ketika syarat “jika” terpenuhi. Dari sudut pandang Teknologi Informasi, Facebook dan situs jejaring sosial lainnya adalah sebuah perangkat lunak berbasis web yang bisa diakses oleh semua orang yang terkoneksi dengan internet dan dibangun dengan tujuan menghubungkan orang-orang yang terpisahkan oleh zona ruang. Perangkat lunak ini lebih bersifat praktis dan mempermudah hidup manusia terutama dalam berkomunikasi dan bertukar informasi di dunia global. Dari sudut pandang Fiqih, Facebook dan situs jejaring sosial lainnya memiliki hukum asal “Mubah” yang artinya “Boleh” seperti halnya perangkat berbasis teknologi lainnya semisal televisi. Facebook adalah alat yang dibuat sebagai hasil kreasi manusia dengan memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk memfasilitasi kebutuhan manusia dalam berkomunikasi. Selayaknya alat, Facebook yang secara dzatnya adalah Mubah dapat berganti hukum menjadi sunnah hingga haram. Namun, pengertian haram di sini adalah “Haram Lighoirihi” bukan “Haram Lidzatihi”. “Haram Lidzatihi” adalah haram karena dzat atau benda itu sendiri seperti daging babi. Sedangkan, “Haram Lidzatihi” adalah haram karena sebab lain di luar dzat atau benda itu seperti kesalahan pada penggunaan. Jadi, tentu sekarang tidak perlu lagi menjadi perdebatan yang menghabiskan tenaga untuk menanggapi fatwa ini.

Pemaknaan yang salah atas fatwa haram ini dapat terjadi karena beberapa sebab. Salah satunya adalah informasi yang diperolah oleh masyarakat dari berbagai media bersifat sepotong-sepotong. Sehingga, menimbulkan asumsi-asumsi yang tidak berdasar. Oleh karena itu, perlu menjadi pelajaran bagi masyarakat akan pentingnya mendapatkan  informasi yang lengkap dan akurat sebelum membuat kesimpulan. Ada pun sebab lain adalah penyampaian FMPPP kepada masyarakat yang masih kurang didukung oleh kajian ilmiah yang melibatkan kalangan praktisi teknologi informasi. Karena Facebook juga memiliki banyak sekali nilai positif selain nilai negatifnya. Dengan demikian, FMPPP mendapatkan pandangan tentang bagaimana menyampaikan fatwa tersebut agar dapat diterima oleh pengguna Facebook maupun masyarakat umum dengan pemaknaan yang benar.

Related Topics About “Fenomena Facebook” :
“Fenomena Facebook : Pengguna Friendser Mulai Melirik Facebook”
“Fenomena Facebook : Apa Yang Dapat Anda Lakukan Dengan Facebook ?”
“Fenomena Facebook : Kenapa Masyarakat Saat Ini Keranjingan Dengan Social Networking Yang Bernama Facebook ?”
“Fenomena Facebook : Perdebatan Fatwa Haram Facebook”
 
Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)[FREAX]


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: