Membangun Paradigma Masyarakat Intelektual Melalui Media Cetak & Elektronik

3 10 2009

 Evan’s Blog (Membangun Paradigma Masyarakat Melalui Media)

Peran media baik cetak maupun elektronik dalam pembentukan paradigma masyarakat sangatlah penting. Media cetak maupun elektronik adalah salah satu cara sarana komunikasi dan informasi yang ada di masyarakat. Melalui sarana ini masyarakat mendapatkan informasi mengenai berbagai kejadian yang bersifat local, nasional, maupun internasional. Tidak hanya informasi, media cetak dan elektronik juga menyediakan berbagai macam sajian entah itu berupa artikel maupun program tanyangan yang bersifat menghibur masyarakat. Dalam perkembangannya, masyarakat makin sadar akan pentingnya media cetak maupun elektronik. Hal ini dapat dilihat dari makin banyaknya media cetak baik itu koran, majalah, maupun media cetak lainnya yang beredar di masyarakat. Selain itu, media elektronik juga telah berkembang dengan sangat pesat. Mulai dari radio, televisi, dan internet yang sekarang makin popular. Hampir semua keluarga di Indonesia memiliki radio maupun televisi. Internet pun sekarang telah menjangkau pedesaaan dan masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Media cetak merupakan salah satu media massa paling tua yang masih popular hingga saat ini. Dengan ditemukannya mesin cetak oleh Lazim Johann Guttenberg beberapa abad yang lalu, media cetak berkembang dengan sangat pesat hingga saat ini. Kita dapat menjumpai dengan mudah media cetak di sekitar kita. Ketika mengendarai kendaraan di lampu merah misalnya, biasanya ada tukang koran yang menjajakan media cetak ini setiap hari. Sungguh media ini telah akrab dengan masyarakat kita. Oleh karena itu, salah satu referensi paradigma yang berkembang di masyarakat adalah melalui media cetak ini. Sebagai bukti, ketika terjadi bom kuningan 2 beberapa saat yang lalu. Dengan cepat masyarakat mengetahui setiap perkembangan penyelidikan bom tersebut. Berbagai opini yang tercantum dalam media cetak tersebut menjadi sumber perbincangan dan diskusi yang menarik di masyarakat. Dari situlah paradigma masyarakat mulai terbentuk. Masyarakat cenderung mengikuti tren berita yang berkembang di media cetak. Dengan demikian, untuk membentuk paradigma yang sehat dan intelek perlu disediakannya konten yang bermutu dalam media cetak yang akan dimuat dan beredar di masyarakat. Konten yang bermutu adalah konten yang bersifat mendidik dan mengajak masyarakat untuk ikut berpikir dan menggali inisiatifnya sendiri untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Salah satu konten bermutu yang bias saya contohkan di sini adalah adanya liputan mengenai program Kampung Bebas Narkoba yang dilaksanakan oleh BNN bekerjasama dengan salah satu media cetak terbesar nasional yang berbasis di Surabaya. Melalui media cetak tersebut, setiap hari ditampilkan semangat warga Surabaya dari setiap RT yang bau – membahu dengan inisiatif mereka sendiri memerangi narkoba dan menjadikan kampung mereka bebas narkoba. Hal  ini sangat positif dalam membangun paradigma berpikir masyarakat yang intelektual dengan konten bermutu tersebut yang mengajak semua kalangan yang membaca artikel tersebut untuk bersama – sama memerangi narkoba mulai dari lingkungan di sekitar kita masing – masing. Agar lebih jelas mengenai konten tidak bermutu yang saya maksud adalah dengan menampilkan berita – berita kriminalitas yang terlalu fulgar di salah satu media cetak. Media cetak tersebut memang secara khusus memuat berbagai berita kriminal. Memang dengan adanya konten tersebut masyarakat menjadi waspada akan tindakan kriminal yang mungkin terjadi di sekitar kita. Namun, dengan penampilan yang dikemas kurang bagus tersebut dapat membuat masyarakat menjadi terbiasa dengan konten itu dan bisa membentuk paradigma masyarakat yang terbiasa dengan tindakan kriminal. Paradigma ini dapat meracuni  pikiran masyarakat dan menimbulkan terjadinya kriminalitas lain yang “terinspirasi” dari konten tersebut.

Selain media cetak, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa televisi merupakan media informasi yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Di antara media informasi lain, baik cetak maupun elektronik, televisi memang menjadi favorit berbagai kalangan masyarakat. Tidak seperti koran yang mungkin hanya orang yang mampu membelinya setiap hari saja yang dapat menikmatinya. Televisi bisa diakses kapan pun tanpa harus membayar sejumlah uang secara langsung untuk menikmatinya. Cukup dengan tersedianya media berupa televisi beserta perangkatnya dan sumber listrik. Sebagian masyarakat Indonesia saat ini sudah mendapatkan pasokan listrik dan memiliki minimal 1 buah televisi per keluarga dari mulai masyarakat kota hingga pelosok desa. Televisi pun telah menjadi media yang akrab dan digemari mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, bahkan manula, baik pria maupun wanita. Dari fenomena ini, televisi memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia.

Berbagai macam program televisi ditawarkan. Program pun telah diklasifikasikan untuk berbagai kelas social dan usia. Secara garis besar dari 2 jenis klasifikasi masyarakat tersebut ditawari dengan program-program dari mulai yang bersifat mendidik hingga lelucon yang tidak berbobot. Namun demikian, program-program yang ditawarkan saat ini telah didominasi oleh tayangan-tayangan yang kurang berbobot dan tidak mendidik bahkan dapat menjerumuskan masyarakat ke dalam pola pikir pragmatisme. Tayangan yang bersifat mendidik kalah pamor dengan sinetron percintaan dan program hiburan yang mengusung gaya hidup glamor selebritis. Hal ini kurang mendidik masyarakat karena mengajarkan bagaimana mendapatkan segala sesuatu secara instan. Lihat saja program pencarian bakat untuk menjadi selebritis. Jika dikritisi dengan seksama, beribu-ribu remaja bahkan lebih telah mendaftarkan diri dan rela mengikuti berbagai fase seleksi untuk menjadi selebritis yang dipuja masyarakat. Begitu mudahnya saat ini untuk menjadi figure pujaan masyarakat hanya dengan lolos seleksi dan menjalani pelatihan beberapa bulan saja. Padahal untuk menjadi figur membutuhkan jalan panjang yang harus dirintis mulai dari awal dan pengalaman yang memadai. Jika pola pikir hanya untuk melihat potensi diri dan mengembangkannya, itu tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi masalah di sini adalah pola pikir masyarakat yang menginginkan kehidupan yang penuh dengan kemegahan dan dipuja banyak orang dapat diperoleh secara instan dalam waktu singkat.

Sebagai kaum intelektualitas yang paham mengenai pengaruh besar media informasi terhadap pembentukan pola pikir, masyarakat yang telah berkesempatan mendapatkan pendidikan tinggi harus bisa memilah dan memilih program apa yang tepat untuk menjadi konsumsi sehari-hari bagi dirinya maupun keluarga. Program pencarian bakat dengan tawaran kehidupan glamor super mewah dan popularitas hanyalah satu contoh diantara banyak program yang kurang mendidik dan menyebarkan pola pikir pragmatism. Jika pola pikir pragmatism telah menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan masyarakat apalagi remaja, dapat dipastikan bahwa masa depan bangsa Indonesai pun menjadi taruhannya. Pola pikir pragmatism mengajarkan bagaimana mendapatkan tujuan dan impian yang ingin dicapai dengan berbagai cara yang bisa dilihat hasilnya secara cepat. Padahal, dalam kehidupan nyata apalagi dalam kehidupan modern yang diiringi dengan persaingan global, untuk mencapai apa yang diinginkan tidaklah semudah itu. Banyak hal yang harus dijalani sesuai dengan proses dan membutuhkan pengorbanan dan waktu yang tidak sedikit. Pola pikir pragmatism dapat menjebak remaja menjadi mudah putus asa ketika mereka mendapatkan tantangan yang lebih dari apa yang mereka bayangkan sesuai dengan kehidupan instan yang penuh kemudahan. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan program-program hiburan yang sedang “in” saat ini. Namun, masyarakat juga perlu waspada terhadap segala kemungkinan yang ada dengan pengaruh globalisasi yang sangat cepat menyebar dan mempengaruhi pembentukan pola pikir masyarakat melalui media infomasi khususnya televisi.

Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)

[FREAX] 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: