Membuka Wajah Lulusan Pondok Pesantren Melalui Novel “Negeri 5 Menara”

2 12 2009

Evan’s Blog (Wajah Lulusan Pondok Pesantren dalam Novel Negeri 5 Menara)

Indonesia, khususnya di pulau Jawa tersebar banyak Pondok Pesantren yang mendidik para santri (murid) untuk belajar ilmu duniawi sekaligus ukhrawi. Di sekolah non-formal ini, para santri dibimbing oleh ustadz (guru) dengan mengedepankan aqidah dan akhlaq dalam asas-asas Islam. Kebanyakan pondok pesantren memang berada di pedesaan yang cukup jauh dari keramaian kota. Oleh sebab itu, kesederhanaan kehidupan pedesaan dengan fasilitas yang terbatas menemani para santri dalam menuntut ilmu. Kesederhanaan dan keterbatasan ini sering membuat Pondok Pesantren dipandang sebelah mata oleh masyarakat modern. Memang fasilitas yang dimiliki Pondok Pesantren tak semewah fasilitas yang dimiliki Sekolah Negeri. Hal ini pula yang pernah saya alami selama 9 tahun. Tetapi bukan berarti dengan kesederhanaan dan keterbatasan itu membuat kualitas santri didikan Pondok Pesantren kalah bersaing dengan mereka yang berasal dari Sekolah Negeri.

Masalah kualitas ini pula yang menjadi salah satu nilai yang bisa diambil dari Novel Negeri 5 Menara. Novel ini membuka mata masyarakat awam yang masih buta tentang Pondok Pesantren. Dalam Novel ini, jelas-jelas diceritakan secara deskriptif tentang kehidupan para santri di Pondok Madani (Pondok Gontor) dan kesuksesan 6 santrinya yang telah melanglang buana mewujudkan impian mereka menuju 5 menara (5 negara). Novel ini memang berupa cerita fiksi, tetapi terinspirasi oleh kisah nyata yang dialami Penulis, Ahmad Fuadi. Penulis merupakan salah satu dari 6 santri yang sukses tersebut. Sebagian dari mereka berhasil menempuh kuliah sarjana maupun pascasarjana di luar negeri dari beasiswa yang berhasil mereka dapatkan. Mungkin sebagian kita tidak pernah membayangkan bahwa seorang lulusan Pondok Pesantren bisa kuliah di luar negeri. Bahkan bagi lulusan Sekolah Negeri pun tidak mudah untuk bisa melanjutkan kuliah di luar negeri. Tetapi, dalam novel ini digambarkan bahwa lulusan Pondok Madani pun bisa kuliah di Amerika serta menjadi jurnalis media cetak Nasional. Ternyata, lulusan Pondok Pesantren tidak hanya bisa menjadi seorang ustradz tetapi juga bisa menjadi apapun yang mereka impikan. Man Jadda Wajada.Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)

[FREAX]


Actions

Information

2 responses

12 03 2010
ikauz06@cs.its.ac.id

Iya yof sepakat, buku ini sekaligus ajang promosi ponpes, gara2 baca novel ini q malah pengen mondok, tp usia sudah nggak memungkinkan lagi, haha

12 03 2010
EVAN

Yupz, bener ka…
Ponpes masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Dan novel N5M ini dapat membuka mata mereka ttg Ponpes. Ponpes dapat menciptakan seorang Buya Hamka maupun Habibie.

Belajar di Ponpes tdk harus dg mondok kok. Dan suasana Tarbiyah di Institut rasanya sudah cukup kondusif. Di kampus, kita tidak hanya belajar ttg Aqidah, Akhlaq, maupun Fiqh Islam seperti di ponpes, tetapi juga isu2 di dunia Islam kontemporer saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: