JATI DIRI PPSDMS NURUL FIKRI : Modal Spiritual, Jawaban atas Pertanyaan: Apa atau Siapa Kita?

29 01 2010

Evan’s Blog (Logo PPSDMS Nurul Fikri)

Danah Zohar, seorang ahli fisika yang kemudian juga menjadi filosof dan pemikir manajemen, mengartikulasikan konsep tentang Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence, SQ) dan Modal Spiritual (Spiritual Capital, SC). Ia berargumentasi bahwa ketiga kecerdasan yang dimiliki manusia (intelektual – IQ, emosional – EQ, dan spiritual – SQ) punya hubungan yang sangat erat, dan bahkan menjadi dasar atau motor penggerak, bagi tiga jenis “modal” (capital) yang dimiliki oleh manusia, baik sebagai individu maupun kelompok/organisasi. Menurut Zohar, modal materi (material capital) yang dibangun di atas dasar IQ hanya mampu mengantarkan kita pada jawaban “apa yang saya pikirkan,” “what I think.” Tidak pernah lebih dari itu. Sedangkan, EQ hanya bisa menguak “apa yang saya rasakan,” atau “what I feel.

Ketika kita – individu maupun organisasi – dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar menyangkut jati diri, mencari tahu apa atau siapa kita, kita masuk ke dalam area modal spiritual atau spiritual capital. Pada tataran organisasi paling tidak terdapat tiga komponen utama dari modal spiritual tersebut, yaitu Visi (yang kemudian diturunkan menjadi Misi), Keyakinan, dan Nilai-Nilai Dasar.

Visi merupakan rumusan “mimpi” yang ingin diwujudkan oleh orang-orang yang berhimpun di dalam suatu organisasi. Pada awalnya, visi biasanya merupakan impian dari pendiri (founder) atau pemimpin organisasi tersebut. Jika kemudian ia mampu mensosialisasikan visi tersebut dengan optimal dan di-buy-in oleh para pengikutnya atau anggota organisasi, visi yang sebelumnya bersifat pribadi berubah menjadi visi bersama, shared-vision, atau shared-dream. Dalam posisi ini, visi menjadi sumber motivasi internal yang kuat bagi organisasi untuk menyatukan segenap sumber daya yang dimiliki dan kemudian bergerak bersama-sama. Ketika visi sudah menjadi shared-vision maka “aku” dan “kamu” sudah melebur menjadi “kita”.

Lazimnya visi mengambil format suatu situasi, kondisi, atau posisi ideal di masa depan, yang bukan sekedar ingin dicapai, namun diyakini pasti mampu dicapai. Bagi si pemilik, visi bersifat sangat subjektif, sehingga tidak ada kata “tidak realistis.” Dan memang, visi mestilah menggambarkan sesuatu yang “tidak realistis,” “tidak nyata” untuk ukuran hari ini. Visi berbicara becoming something, in the future, bukan sesuatu yang sifatnya here and now.

Keyakinan menunjukkan bagaimana para anggota suatu organisasi memberikan makna (meaning) atau mempersepsikan organisasinya, dan hal-hal yang lain yang terkait dengan itu. We are what we believe. Ketika telah terbangun kesatuan makna atau persepsi, terbentuklah apa yang disebut shared-meaning, yang akan menggerakkan para anggota organisasi untuk merespon stimulus yang sama dengan cara yang sama pula. Dampaknya jelas sekali, sejumlah vektor yang searah tentunya akan saling menguatkan dan memiliki implikasi kolektif yang jauh lebih besar.

Berdasarkan kedalamannya sering dibedakan antara opinion, operating beliefs dan conviction. Suatu keyakinan yang berada pada tingkatan opinion biasanya sering diucapkan secara verbal namun belum tampil dalam perilaku sehari-hari. Suatu operating beliefs biasanya tampil dalam perilaku sehari-hari selama situasinya normal, tidak kritis. Sedangkan sebuah conviction akan membuat seseorang berpegang teguh kepadanya dalam situasi apapun, bahkan ketika hidupnya menjadi taruhan. Sebagai contoh, ketika keyakinan bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Melihat berada pada tataran opini, seseorang masih berani berbuat dosa, mencuri atau korupsi misalnya, apalagi jika tidak ada orang lain yang tahu atau melihat. Ketika keyakinan bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Melihat sudah menjadi operating beliefs, orang tersebut tidak akan mencuri atau korupsi sejauh berada dalam situasi normal. Namun cukup besar kemungkinan ia akan mencuri dalam keadaan keterdesakan ekonomi. Tapi jika keyakinan bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Melihat sudah menjadi conviction, dalam situasi seberat apapun orang tersebut akan teguh pada pendiriannya untuk tidak berbuat maksiat.

Nilai-Nilai merupakan turunan yang bersifat lebih operasional dan keyakinan, yang menunjukkan apa yang diyakini baik atau buruk, benar atau salah, penting atau tidak penting, dalam kehidupan organisasi tersebut. Dengan demikian, nilai-nilai merupakan pedoman bagi para anggota organisasi dalam perilaku sehari-hari. Dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut merupakan sumber bagi norma-norma perilaku. Ketika seperangkat nilai sudah diterima secara kolektif oleh anggota organisasi maka nilai-nilai tersebut menjadi shared-values. Sejumlah nilai yang paling berpengaruh terhadap perilaku atau menjadi rujukan utama disebut sebagai nilai-nilai dasara atau nilai-nilai utama (primary values). Dalam budaya organisasi biasanya dibedakan antara nilai-nilai yang diinginkan (das sollen), yaitu nilai-nilai yang diturunkan dari visi dan keyakinan dengan nilai-nilai yang berkembang saat ini (das sein). Proses membangun budaya organisasi pada dasarnya adalah upaya mengatasi kesenjangan antara das sein dengan das sollen, sehingga pada akhirnya das sein = das sollen.

Posted By : Evan Yofiyanto @ Evan’s Blog : My Diary (blog.its.ac.id/freax)

[FREAX]


Actions

Information

One response

17 07 2013
Syarat Kambing Aqiqah

My brother suggested I might like this web site.
He used to be totally right. This publish truly made my day.
You can not imagine simply how much time I had spent for this info!
Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: